Isu Indochina 2025 Hingga Konspirasi Overseas

DISCLAIMER: Tulisan ini sama sekali bukan bermaksud menularkan Xenofobia atau ketidaksukaan, ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau yang dianggap asing.

Dalam korelasi dengan tulisan ini, tentunya yang dimaksud adalah bangsa cina. Atau lebih sempit lagi adalah orang cina. Yang berdasarkan data wikipedia populasi saudara kita dari leluhur Tangren (Tiongkok Selatan) yang ada di republik ini, berjumlah sebesar 2.832.510 jiwa (sensus 2010).

Jadi, serpihan informasi yang penulis nukil dari pelbagai sumber resmi, justeru membuka tabir gelap. Adanya persekongkolan kekuasaan, yang bertujuan jangka pendek. Berambisi demi syahwat berkuasa yang menjijikkan. Dengan menggunakan pendekatan teori machevialis dangkal. Mudahnya, menghalalkan segala cara. Dibumbui oleh makin padatnya penduduk tiongkok yang saat ini sudah berjumlah 1,4 miliar jiwa.

Dalam kuliah umum berjudul Wawasan Kebangsaan dan Keamanan Nasional pada 26 Oktober 2015. Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan ; “Indonesia harus siap menghadapi berbagai ancaman yang datang dari luar. Namun, hingga saat ini belum banyak lembaga di Indonesia yang sudah mengatakan ancaman kedepan seperti apa.

Menurut Mantan Panglima TNI tersebut, ancaman yang nyata ada di hadapan bangsa ini adalah soal perebutan atau perang di sektor energi, pangan dan air.

Dengan demikian, seharusnya bangsa ini seminim-minimnya mewaspadai. Setiap bidak atau gerak geopolitik negara-negara adidaya terhadap bangsa ini. Tentunya salah satu fokus utamanya adalah terkait melimpahnya kedua sumber daya pangan dan energi di negeri kita.

Chapter One

Disebutkan, dalam perjalanan sejarah panjang nomaden bangsa tiongkok. Ada sisi kelam yang sempat tertoreh di era 1700-an atau tepatnya di masa penjajahan kolonial Belanda. Dimana saat itu, masih berlaku hukum milik penjajah. Yang membagi strata sosial menjadi 3 golongan utama. Yakni kelas londo (termasuk priyayi dan elite), masyarakat tionghoa, bangsa arab dan terakhir kasta pribumi.

Dikutip dari alwishahabwordpress, dikatakan bahwa masyarakat Cina di Indonesia tidak hanya mengalami saat-saat menyenangkan. Seperti, pada tahun 1740 yang menurut para sejarawan merupakan noda paling hitam yang dicatat sejarah. Data kontemporer menyebutkan tidak kurang 10 ribu orang Cina — pria, wanita, lansia sampai bayi yang baru lahir — saat itu dibantai oleh VOC secara kejam.

Kasus pembantaian terhadap etnis Cina itu ratusan kali lebih dahsyat dari kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di Jakarta dan Solo.

Bahkan, nama Kali Angke (dalam Mandarin berarti Kali Merah) menjadi kenangan bahwa kali yang berdekatan dengan Glodok ini saat itu telah menjadi merah karena darah.

Begitu biadabnya pembantaian itu, hingga para pasien termasuk bayi-bayi yang berada di RS Cina (kira-kira di depan Stasion KA Beos), juga dibunuh. Orang-orang Cina di penjara bawah tanah di Balaikota (stadhuis) yang berjumlah 500 orang, semuanya juga dibunuh.

Untuk menggambarkan dasyatnya peristiwa tersebut, Willard A Hanna dalam buku Hikayat Jakarta menulis, ”Tiba-tiba secara tidak terduga, seketika itu juga terdengar jeritan ketakutan bergema di seluruh kota, dan terjadilah pemandangan yang paling memilukan dan perampokan di segala sudut kota.”

Menurut laporan kontemporer, 10 ribu orang Cina dibunuh, 500 orang luka parah, 700 rumah dirusak dan barang-barang mereka habis dirampok. ”Pendeknya, semua orang Cina, baik bersalah atau tidak, dibantai dalam peristiwa tersebut,” tulis Hanna.

Setelah peristiwa pembantaian warga Cina, gubernur jenderal Valckenier digantikan oleh mantan panglimanya, Baron van Imhoff. Kediamannya itu kini dikenal sebagai toko merah. Memang diperkirakan di sekitar tempat itulah terjadi pembantaian di luar perikemanusiaan.

Bangsa Cina di Hari Ini

Lalu pembaca yang budiman, hampir 3 abad kemudian. Semacam Deja Vu kembali menghantui sejarah republik. Tatkala ada sosok seorang warga keturunan yang bermental nekat, berotak dagang, mudah ingkar, dan yang membahayakan adalah sifat pemberang yang dimilikinya. Dengan perilakunya yang agresif, mencoba untuk mengarahkan emosi masa untuk flashback ke tahun – tahun yang penuh lava emosi dan pijar kemarahan tersebut.

Dalam berbagai tingkah laku Ahok -mantan gubernur longsoran Jokowi- seperti pernah kita lalui bersama, memang patut dipertanyakan. Kalau tidak mau dibilang sebagai unsur kesengajaan.

Gambaran pribadi -bersih dan anti korupsi- yang disemprot tiap saat oleh media pelacur. Telah membuat persepsi masyarakat jadi keracunan. Karena di lain waktu, hal demikian malah dibantah dengan sendirinya melalui pemberitaan skandal korupsi Ahok. Yang dimuat baik oleh netizen di sosmed atau media non mainstream.

Sebagai kilas balik mengapa bangsa mereka begitu agresif dan sangat kental terasa berbahaya ketika memegang kekuasaan. Ada baiknya, penulis juga melengkapi artikel ini dengan bahan tulisan dari Hatta Taliwang, dimuat dalam pribumidotcom edisi 23 Juli 2016. Atau lebih kurang dua bulan sebelum Ahok menarik trigger perpecahan melalui pidato kontroversial dia, di Pulau Seribu (27 September 2016).

Dalam buku ‘Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia’ jilid kedua, terbitan P.N Pradnja Paramita: 1970, Prof Dr. D.H. Burge dan Prof. Dr. Mr. Prajudi (buku yg terdiri dari 2 jilid ini tersedia di Perpustakaan UI Depok, dan bisa diakses oleh siapa saja) menuturkan bahwa seorang calon Lurah  harus memiliki uang 700-1000 gulden .

Uang tersebut sejumlah 200 gulden ‘dipersembahkan’ kepada Bupati, untuk Wedana 100 gulden, dan untuk Jurutulis Controleur 25 gulden. Sisanya untuk ‘mensejahterakan’ eselon lainnya yang terkait dalam struktur kepangrehpradjaan.

Artinya, kalau kita mengambil pemahaman dari paragraf tulisan diatas, maka Ahok atau Tjung Ban Hok 钟万学 dalam bahasa Hakka. Merupakan perwujudan dari politik Overseas china. Yang mana dalam hal ini, negeri leluhur mereka bagai makan buah simalakama. Dibiarkan tinggal di tiongkok, SDA bisa habis. Sementara, jika diaspora ke LN, banyak tokoh dunia yang pegang peranan penting. Justru berstatus dwi kewarganegaraan.  

Selanjutnya, kalau kita pelajari lagi jalannya sejarah, memang berat diakui bahwa budaya korupsi, suap menyuap, KKN dan sejenisnya sangat besar ditularkan oleh kontribusi etnis Tionghoa Indonesia. Coba kita lihat dengan fakta sejarah, di buku novel karangan Pram A Toer, Haokiau di Indonesia. Dengan apik disitu digambarkan soal siapa sebenarnya sosok bangsa china.

Yang dalam era modern sekarang, mafia-mafia hukum dan koruptor besar yang dicatat oleh publik, baik di lingkaran presiden Soeharto, Megawati, SBY, sampai Jokowi, umumnya adalah elit Tionghoa.

Jaringan mereka memang sudah menggurita dan mencengkeram pejabat pribumi. Nama-nama besar hanya selewatnya saja mampir di headline media massa, tidak berminggu-minggu sebagaimana mereka mendemonisasikan umat Islam dan oposan yang kritis.

Sementara, sosok yang kedua the dangerous man overseas, adalah James Riady. Dikutip dari podesta email, disebutkan bahwa Li Bai atau James Riyadi, dikenal sebagai seorang Tionghoa- Indonesia, juga salah satu dari deretan konglomerat terbesar di Indonesia. Dengan kerajaan bisnisnya, Lippo Group.

Jejak rekam James Riyadi atau kita singkat saja dengan JR ini cukup spektakuler. Permainan politiknya merambah dunia hingga lintas benua.

Bahkan dirinya kerap disidik oleh pihak kepolisian paman sam, terkait dugaan dana kampanye illegal saat Clinton berkuasa di gedung putih.

Siapa JR Sesungguhnya?

Banyak fakta yang menyebutkan, bahwa selain sebagai pemeluk kristen evangelis yang fanatik. JR juga disebutkan sebagai agen intelijen militer china. Walau data ini memang masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Karena menyangkut kerahasiaan antar dua negara. Tiongkok dan Indonesia.

Namun saat penulis, membuka data wikileaks tentang podesta email. Disitu disebutkan oleh kolumnis New York Daily News, Annie Karni dalam laporan yang dibuat di 23 Februari 2015 :

“Pada tahun 1998, seorang rekan di Capitol Hill dan saya menulis Tahun Tikus (Regnery), sebuah laporan tentang bagaimana intelijen militer Cina memperoleh kemajuan dalam akses keuangan di pemerintahan Clinton.

Buku itu adalah best-seller New York Times, dan tim investigasi dari The New York Times serta memenangkan Pulitzer untuk pelaporan terpisahnya pada subjek yang sama.

Sementara kami melihat tindakan yang diambil oleh Mr Clinton, kami terus menemukan jejak Mrs Clinton. Semua tokoh tokoh dari masa itu – Johnny Chung, John Huang, James Riady, dan lainnya – tentu saja berakhir di depan pintu rumah Clinton, tetapi mereka pergi melalui Nyonya Clinton,” laporan itu menyatakan.

Dalam laporannya Newsweek juga menyebutkan : “Keluarga JR tiba di Little Rock pada tahun 1977, orang-orang muda ingin perubahan di dunia masing-masing. Sementara Bill Clinton sudah masuk dalam dunia politik. Di usia 30 tahun, ia baru saja memenangkan pemilihan pertamanya. Dia bertugas sebagai jaksa agung Arkansas dan bersiap untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur.

Setelah sukses bersahabat dengan Gubernur Arkansas yang di kemudian hari menjadi POTUS ke 43 US, Bill Clinton. JR sukses menjalankan misi intelijen China.

Dengan membuat the first china president in United States. Sindiran atas kedekatan Clinton pada ketiga tokoh badan intelijen china. Johnny Chung, John Huang, dan James Riady.

Namanya kemudian terseret pada sumbangan ilegal pada Partai Demokrat tahun 2001 dan diharuskan membayar denda oleh pengadilan sebesar 8,6 juta U$. Juga terseret dalam skandal keuangan Bank Lippo di tahun 2002

Yang terbaru adalah, nama JR ikut tersangkut kasus suap Mega Proyek Meikarta. Walau sampai saat ini, baru level Bupati, Billy Sindoro saja yang kena cokok. Proyek senilai 278 Triliun, yang berdiri diatas lahan 500 Ha, telah membuat rumahnya digeledah oleh lembaga anti rasuah. Tapi masih membuat publik pesimis apakah kasusnya akan diteruskan.

Sementara,saham-saham emiten Grup Lippo langsung rontok didera aksi jual para pelaku pasar. Investor merespons negatif penggeledahan rumah Bos Lippo James Riady oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus dugaan suap perizinan Meikarta.

Kiprah JR dalam politik Indonesia, jejak rekamnya masih terlihat pada Pilkada DKI tahun 2012 yang lalu. Sosok JR lah yang menggandeng konsultan nomor wahid, tokoh pencitraan LGBT, serta pollster kawakan Stan Greenberg. Hingga diteruskan saat Pilpres 2014.

Soal Konspirasi 9 Taipan

Seperti bahasan awal, bahwa kelompok cina perantauan, atau china overseas. Di negara kedua mereka umumnya berprofesi sebagai pedagang. Untuk kemudian, bermetamorfosa menjadi taipan/ pengusaha yang dibesarkan pribumi penguasa dengan berbagai paket kebijakan pro mereka. Gampangnya nih, tax amnesty.

“Ketika nantinya mereka sudah menggurita. Membesar bagaikan raksasa tanpa lawan tanding. Mereka tidak hanya ingin mendominasi secara ekonomi. Tetapi juga masuk ke kancah politik. Banyak tokoh tionghoa yang sekarang ini -sejak era Ahok menjabat- terang-terangan maju dalam dunia politik. Sebut saja Hary Tanoe, Ahok, Setya Novanto, dsbnya.”

Namun sesungguhnya, saat dilihat perkembangannya terakhir, mereka kini seperti sedang berkelompok dan -kuat dugaan- bermuslihat agar negeri warisan ibu pertiwi ini jatuh secara politik dan ekonomi pada kelompok oligarki milik mereka. Mereka berperan sebagai tuhan bagi jongos-jongos mereka, Play As A God.

Dari 9 pengusaha yang diduga memberi kontribusi atau setidaknya ikut bermain dalam dunia politik, dan patut dicermati tokoh-tokohnya seperti : 1. James Riyadi, 2. Anthony Salim, 3. Aguan, 4. Tommy Winata, 5. Dato Sri Tahir, 6. Mochtar Riyadi, 7. Edward Soeryadjaya, 8. Budi Hartono, dan 9. Sofjan Wanandi.

Serunya lagi, dari 9 orang berpengaruh dalam ekonomi Indonesia tersebut, ada satu yang selalu saja menjadi ‘king maker’ sejak kemunculannya. Orang yang dimaksud adalah, Sofyan Wanandi. Yang sampai kini masih tetap eksis dan memiliki pengaruh yang kuat dalam perpolitikan di Indonesia. Beberapa catatan sejarah yang berhasil dihimpun oleh penulis tentang sepak terjang ‘king maker’ ini diantaranya adalah, peristiwa malari 1974, serta tentunya ‘masterpiece’ Reformasi Palsu 1998. Mengapa saya selipkan kata-kata palsu disitu?

Sebab, jika hanya reformasi, arti kata adalah soal Re atau kembali. Sementara formasi sendiri berkaitan dengan aturan, Undang-undang, rules bernegara dalam masyarakat yang harus dirubah tanpa menimbulkan banyak korban berjatuhan. Sedangkan reformasi yang kemarin adalah sesungguhnya REVOLUSI. Karena memang hanya revolusi yang mampu menjungkalkan bangunan kokoh milik Orde Baru.

Mereka hanya bermain di semantik kata, dan jargon ini, tentunya difasilitasi oleh media-media yang sebagian besar sahamnya adalah milik taipan 9 orang tadi. Tatkala rakyat mencari tau apa yang terjadi di negerinya via surat kabar, radio dan televisi, perihal huru-hara yang melanda. Mesin propaganda elite china, yang dikomandoi oleh Sofyan Wanandi cs bekerja dengan sangat cermat dan teliti. Sampai untuk pemilihan jargon mereka perhatikan. Kalau dilihat bangunan Revolusi 1998 kemarin, ada berbagai segi yang mirip, perlahan kembali muncul ke permukaan.

Maksud narasi ini adalah, ada kesamaan bentuk dari 4 pilar yang sedang menjalankan strategi menuju “Indochina 2025” Untuk yang pertama adalah, peran lembaga pemikir strategis seperti CSIS, sebagai pembuat analisis dan penyusun konsep. Kuat dugaan masih sama, karena aroma islamophobia di rezim ini sangat kental nuansanya. Dengan doktrin andalan milik pater Beek. Lesser Evil, atau setan kecil.

Yang kedua adalah peran militer, yang saat Revolusi tahun 1998, diwakili oleh Benny Moerdani, sebagai mantan Pangab yang baru saja lengser pada 1993 , tidak sulit bagi Jenderal sejenius Benny untuk mempersiapkan strategi dan orang-orangnya untuk melaksanakan pendongkelan Orang Kuat Orde Baru.

Di masa sekarang peran tersebut -dugaan kuat- dijalankan oleh Polri. Sebagai tukang gebuk dari setiap kebijakan rezim, yang terkesan agak paranoia terhadap gerakan islam. Kemudian yang ketiga, adalah sosok Ketum abadi PDIP Megawati Soekarnoputri- dengan basis massa PDIP yang taklid buta pada dirinya- hal yang sepele jika berbicara soal pengerahan massa. Dan skenario saat ini justru menguatkan sinyalemen tersebut. Ingat dengan pidato politik mamak saat Ultah PDIP? Siapa saja yang berani mengganggu jalannya pemerintahan maka dipastikan akan berhadapan dengan massa congor putih.

Untuk yang keempat atau terakhir, tentunya pengatur rhythme Sofjan Wanandi, sebagai king maker. Baik di era Orde Baru, dan berlanjut ke masa sekarang. Di masa sekarang ini, sumbangsih Sofyan adalah kemampuan lobby serta networking di pusaran elite Cina, yang mayoritas adalah konglomerat. Dan mengarahkan design kelompok agar fokus memberi sangu serta power yang mereka punya. Jadi sekali lagi, jelas dikatakan bahwa peristiwa sejarah pada tahun 1998. Adalah murni revolusi. Sebab, syarat utama untuk revolusi, yakni jatuhnya korban jiwa, limbungnya ekonomi serta akumulasi kepentingan para oportunis sudah dipenuhi. Kemudian kita akan beralih ke chapter terakhir.

The Last Chapter

Jadi pembaca, kesimpulannya adalah ada kelompok kelompok tertentu di Indonesia mencoba melakukan kampanye yang mencoba mengaburkan penduduk asli pribumi dan Cina pendatang dengan menggugat sejarah ribuan tahun seolah olah tidak ada pribumi dan semua sama sama pendatang. Ini upaya orang Cina yang harus diwaspadai dengan cara yang saksama.

Dalam Pilkada Jakarta yang sama-sama kita ketahui dimenangkan oleh Anies dengan angka yang cukup memalukan untuk kubu petahana. 57,95% berbanding 42,05%. Sungguh telak dan membuat panik rezim yang berkuasa. Karena sesungguhnya bagi siapapun yang ingin menggenggam Indonesia, Kota Jakarta adalah Kunci. Centre Of Gravity. Siapa yang menguasai Ibukota akan dengan mudah mengakses kekuasaan Republik.

Pilkada Jakarta dinilai sebagai pertarungan ronde kedua, antara dua kubu yang dulu bersaing dalam pilpres 2014. Yang membelah massa politik di bumi NKRI menjadi kubu pemenang -dengan segala cara- dan kubu yang kalah -karena lugu mau ikuti aturan. Mereka masih bertarung sesungguhnya, tanpa gemerlap media, sunyi dan senyap serta mindik-mindik sembunyi. Di Bawah tanah, diruang-ruang berpendingin udara dalam ketinggian pencakar langit Kota Jakarta. Merancang, bagi yang kalah untuk setidaknya rebounds. Bagi yang menang, sebagai pengokohan hegemoni atas pilihannya atas pattern politik machiavelli’s yang mereka anut.

Ada beberapa kutipan pengamat politik dan ekonomi , Marwan Batubara yang saya adopsi disini. Coba kita simak bersama-sama.

Bahwa, kemunculan sosok Ahok, non pribumi yang dibenci sebagian masyarakat. Bukanlah kebetulan semata. Dalam beberapa wawancara di media, ia mengakui bahwa ambisi sesungguhnya adalah menjadi RI 1 di negeri Nusantara. Dan ini diperkuat dengan tercium aroma konspirasi antara para taipan yang menyokongnya.

Bukankah dalam salah satu rapat dengan para pengembang di 15 Oktober 2015. Dengan lantang Ahok mengatakan, bahwa kontribusi dari pengembang sudah dihitung sebagai sumbangan untuk maju dalam kontestasi Pilkada DKI. Artinya bisa disebut, ada kesepakatan rahasia antara mereka. Antara tauke dan Ki Demang pilihan mereka.

Persekongkolan terang-terangan tadi, antara cukong reklamasi -saat itu diwakili oleh Ariesman Widjaja orangnya Aguan- dengan Ahok melalui Pergub No 2238 tahun 2014. Diyakini merupakan kesepakatan jahat dan terselubung. Persenyawaan haram antara penguasa dan pengusaha.

Kemudian figur Ahok telah berhasil terkonstruksi sedemikian rupa sebagai ikon musuh sebagian besar masyarakat, dan persis seperti karakter alm. Soeharto menjelang kejatuhannya. Menjadi public enemy.

Dalam dunia pers, media pro Ahok maupun yang anti Ahok, keduanya menyumbang peranan dalam membentuk citra Ahok sebagai ikon musuh rakyat termarginalisasi. Ikon semacam ini, secara sosiologis malah berfungsi memusatkan perhatian rakyat umum. Yang sebenarnya sudah sulit untuk memikirkan kehidupannya sehari-hari. Kasus-kasus yang diingat dan diyakini oleh masyarakat luas sebagai bentuk kesalahan, melanggar hukum dan harus ditindak, justru secara sengaja malah dikaburkan oleh Penguasa.

Sebut saja Reklamasi, Sumber waras, Trans Jakarta yang konon menyeret nama Gubernur DKI saat dijabat Jokowi, adalah deretan kasus yang disimpan atau dipeti-eskan. Hal- hal demikian justru mengeskalasi pertarungan politik yang sedang meruncing antar yang kalah dan yang sudah menang pada 2014 yang lalu.

Pilpres tahun depan juga ditengarai adalah rematch yang belum usai antara faksi-faksi yang ada dalam masyarakat. Sementara parpol PDIP dan TNI sendiri juga meletupkan aroma persaingan internal. Di parpol PDIP antara golongan Nasionalis kontra dengan golongan sosialis beraroma komunis. Bersamaan kubu nasionalis dan agamis, merah versus hijau di ranah militer.

Bukti paling kuat soal masuknya gerbong syiah-liberal-neo komunis adalah kelakuan gerombolan anak muda pengen ngetop di sosmed -yang mengaku partai anak muda- PSI. Betapa partai ini bisa disebut perkawinan antara suara perjuangan Ahok dan ideologi milik Aidit. Sebagai ahok, PSI sering lompat pagar mengurusi akidah agama mayoritas. Umat islam. Mulai dari menolak perda syariah, menolak poligami sampai kelakuan anggotanya yang meneriakkan jargon agama sembari memajang gambar cabul di handphone-nya. Absurd dan terkutuk. Menuduh HRS secara serampangan, tapi malah berbalik menyerang dirinya sendiri. Rasain. Dalam mewakili pikiran Aidit, mereka menolak poligami. Sama seperti saat Aidit meneriakan Presiden tidak bisa beristri empat atau lima, dihadapan Soekarno. Bedanya, Ketum PSI mengucapkan hal ini di media. Walau tetap saja seperti menampar muka Megawati Ketum PDIP. Kan beliau lahir dari rahim istri ketiga. Sungguh kelakuan Partai tidak berakal.

Disisi lainnya, kubu Polri di masa sekarang bisa dibilang memainkan kartu sebagai ABRI Nasionalis yang dahulu dipimpin oleh Jenderal Benny. Ciri dan tindak-tanduk mereka serupa. Phobia terhadap islam, tegas dan tanpa kompromi terhadap Ulama atau tokoh islam, dan jadi alat pemukul rezim. Dibarengi lemah penuh pengertian pada kelompok penyokong rezim. Coba lihat berapa banyak ulama yang dikriminalisasi. Berapa banyak yang dianggap berseberangan dengan rezim kemudian dilekatkan stempel ‘makar’

Yang seperti diketahui, sejatinya harus memenuhi beberapa unsur penting seperti adanya pasukan bersenjata, jumlah massa yang cukup untuk gerakan semacam kudeta tersebut. Hal ini tentunya justru menimbulkan kecurigaan tersendiri saat itu, bagi pihak-pihak yang anti Ahok sendiri. Jika masyarakat jeli, sesungguhnya dalam kubu rezim sendiri, sudah ada tiga aliran utama penyokong kokohnya rezim, yakni fundamentalis Katolik (CSIS/ agen-agen Kasebul), fundamentalis Kristen (konon dipimpin oleh JR), dan faksi sosialis (GM-PSI dkk).

Nah, pertanyaannya adalah, mengapa mereka turun bersamaan dalam mendukung serta menghancurkan gerakan-gerakan musuh rezim?

“Salah satu sebabnya adalah, bangkitnya Islam di bidang politik, yang tentu saja dianggap sebagai sebuah ancaman. Dimana selama masa Orde lama, kemudian Orde baru berhasil mereka redam.”

Dengan jargon kontra revolusi dan anti pancasila. Sudah cukup untuk membuat gerakan kebangkitan umat islam merunduk jeri. Sementara di masa sekarang mereka mempunyai dua lembaga antek gerakan -Polri dan KPK- yang berpeluru makar dan stempel koruptor.

Jika dipastikan berseberangan dengan rezim yang saat ini berkuasa, peluru makar akan dilesakkan ke arah tokoh yang dianggap sebagai penggerak. Jika tokoh tersebut berada dalam lingkar kekuasaan, dengan mudahnya mereka melabeli dengan OTT tanpa adanya bukti shahih tentang idiom korupsi itu sendiri. Salah satu contohnya adalah OTT PA mantan Hakim MK yang apes dibidik oleh rezim.

Sebagai penutup:


Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Bung Karno
 Sumber "Dari Gestapu Ke Reformasi ~ Dr.Salim Said"  
"Hatta Taliwang : Mewaspadai Politik Cina Raya"