Secret Society ala Islam, Ikhwan al-Shafa

Sebuah fakta tercatat sejarah, sejarah Islam pernah memiliki sebuah perkumpulan rahasia, secret society, Ikwan al-Shafa. Menurut para pakar sejarah kontemporer, Ikhwan al-Shafa beranggotakan ilmuwan – filsuf moralis di era dinasti Abbasiyah, Menurut catatan Abu Hayyan al-Tauhidi semasa hidupnya (1023), Ikhwan al-Shafa diperkirakan aktif sejak abad ke-8 atau 10 Sesudah Masehi di era dinasti Abbasiyah, yang berasal dari kalangan Syiah Ismailiah.

Hana Al Farukhi menyatakan bahwa nama Ikhwan al-Shafa diekspresikan dari kisah seekor merpati dalam cerita Kaliilah wa Dhummah yang diterjemahkan oleh Ibnu Muqaffa.

Ikhwan al-Shafa yang juga berarti “persaudaraan yang suci dan bersih”.

Apa yang dipaparkan Abuddin Nata, guru besar UIN Jakarta tentang Ikhwan al-Shafa, yakni bagaimana mereka menanamkan paham persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah) tak akan sempurna, bila ia belum mencintai saudaranya selayaknya mencintai dirinya sendiri.

Ikhwan al-Shafa muncul tidak sekedar karena ilmu pengetahuan, ketidak setujuan mereka terhadap dinasti Abbasiyah yang dianggapnya penuh kezaliman dan kekuasaan, sangatlah tidak pantas disebut Khilafah

Secret Society Ilmuwan Islam

Siapa saja anggota Ikhwan al-Shafa tidak pernah terekspos publik, ensiklopedia filsafat Stanford University menyebut Ikhwan al-Shafa juga dikenal dengan nama “Kelompok Persaudaraan”, kelompok yang sangat mendalami ilmu filsafat dan tasawuf.

Tujuan perkumpulan mereka sederhana, menyalakan kembali obor ilmu pengetahuan di antara kalangan kaum muslimin, agar jangan terperosok kejahilan dan fanatisme. Kemunculan perkumpulan rahasia ini dilatar belakangi oleh keprihatinan mereka dengan pelaksanaan ajaran Islam yang dianggap tercemar oleh ajaran – budaya dari luar Islam., dan membangkitkan kembali kecintaan umat Islam akan ilmu pengetahuan.

Konon, Al-Majriti adalah figur yang membawa pemahaman – ideologi perkumpulan ini menyebar di dataran Spanyol. Al-Majriti pula yang berperan sebagai sang ikhtisar dalam karya risalah Ikhwan al-Shafa nantinya.

Risalah, Kelompok dan Taqiya

Perkumpulan rahasia ala Islam ini merilis satu risalah spektakuler yang ditulis oleh berbagai anggota, yang disebut Rasa’il Ikhwan al-Shafa. Terdiri dari 52 risalah yang memuat berbagai disiplin ilmu pengetahuan, kemudian terbagi lewat ke-8 seri kitab. Secret society ini kebanyakan penganut Syiah dan Ismailiyah.

Ibnu Sinna (avicenna), digambarkan sedang menunduk memohon kepada gubernur di era Abbasiyah saat itu. / via sciencephoto

Walaupun eksklusif dan tertutup, karya-karya Ikhwan al-Shafa dapat ditemui mudah di masjid, kuttab, dan tempat pendidikan terbuka di era itu. Semua mengetahui bahwa karya-karya mereka ini progressif dan memang brilian, jarang terpikirkan awam kebanyakan.

Buku Ke-1: Matematika (Aritmatika, Geometri, Musik, dan Astronomi).
Buku Ke-2: Logika (Isagogi, Demonstrasi, Silogisme, Dialektika, Retorika, Sopistik, dan Poetik).
Buku Ke-3: Fisika (Kosmologi Fisik, Minerologi, Botani, dan Zoologi).
Buku Ke-4: Fisika (Zoologi, Anatomi, Embriologi, dan Antropologi).
Buku Ke-5: Psikologi (Anatomi, Psikologi, dan Bahasa).
Buku Ke-6: Psikologi (Kosmologi, Psikologi, dan Eskatologi).
Buku Ke-7: Agama (Mazhab Pemikir an, Persaudaraan, dan Iman).
Buku Ke-8: Agama (Ilmu Hukum dan syariat).

Perkumpulan ini terbagi menjadi 4 (empat) kelompok:

Kelompok pertama: 14 risalah “matematis” tentang angka. Bagi mereka, angka adalah unsur terpenting dalam mengkaji filsafat, karena ilmu angka adalah akar dari semua sains.

Kelompok kedua: 17 belas risalah yang membahas persoalan “fisik-materiil”, yang berkaitan dengan karya Aristoteles seputar Fisika. Sedikit tambahan psikologi, epistemologi, dan linguistik, permasalahan yang tak ada di dalam korpus Aristotelian.

Kelompok ketiga: 10 risalah psikologis-rasional, membahas prinsip intelektual, hal-hal kawruhan (intelligibles), hakikat cinta erotik (‘isyq), dan hari kebangkitan.

Baca juga: Konspirasi teknologi 5G bagi tubuh manusia

Kelompok keempat: 14 risalah pembahasan tentang cara mengenal Tuhan, akidah dan pandangan hidup Ikhwan al-Shafa. Sifat hukum Ilahi, kenabian, makhluk halus, jin, malaikat dan rezim politik. Terakhir, hakikat teluh, azimat dan aji-ajian ada di fase kelompok terakhir ini, kontroversial memang.

Ekslusifitas ala Ikhwan al-Shafa, memang menghalalkan prinsip taqiya dalam proses pergerakannya, karena berbahaya bagi keselamatan mereka bila dilakukan terbuka, kemudian terkuak rezim kekhalifahan Abbasiyah, menyaru dengan kepura-puraan lewat taqiya adalah taktik yang dibenarkan menurut kelompok yang memang menganut Syiah.

Ikhwan al-Shafa memang berupaya menyatukan pandangan astrologi, hermetik dan Islam, sebuah langkah yang progresif dan berpotensi menggoyahkan akidah Islam era itu. Diperkuat bagaimana Al-Kindi, Ibnu Sina dan Al-Farabi mengadopsi paham – pemikiran neo-platonism , aristotleian yang justru lekat dengan paham pagan – okultisme Yunani kuno.

Di kisaran abad itu, nama besar filsuf berdarah Yahudi, Saadi Gaon (942) dan Maimonides (1204) ikut membaur.


Bagaimana kontroversi internal yang membuat Ikhwan al-Shafa dibubarkan kekhalifan Abbasiyah itu sendiri? berikutnya, tentang pembubaran secret society ala Islam.

Leave a Reply